Minggu, 03 Mei 2009

Jenis-jenis kapal

JENIS-JENIS KAPAL
A. Sesuai propulsi (alat penggerak):
Penggerak kapal umumnya dapat berupa dayung, angin (layar), dan mesin.
Kapal roda kayuh (paddle wheel ship) adalah perkembangan dari kapal dayung dengan tenaga manusia dan kayuhnya digerakkan oleh mesin. Contoh kapal roda kayuh ini sekarang dapat kita lihat di sungai Missisipi, AS sebagai kapal rekreasi.
Jenis propulsi kapal lainnya adalah:
a. Screw propeller (baling-baling sekrup); sering dijumpai dimana-mana dan umumnya digunakan sebagai penggerak kapal.
b. Voith Schneider propeller; terdiri dari bilah-bilah tegak yang membentuk lingkaran terhadap sumbu putarnya, kecepatan dan arah kapal diatur dengan mengubah sudut pukul bilah. Keuntungan penggunaan jenis ini yaitu olah geraknya lincah, terutama untuk kapal tunda dan kapal ikan yang memerlukan manuver yang cekatan. Kerugiannya adalah harga yang mahal dan peralatan yang rumit sehingga untuk perbaikan membutuhkan keahlian khusus.
c. Controllable pitch propeller (baling-baling kendali daun); adalah baling-baling yang langkahnya dapat diatur atau dikendalikan dengan jalan memutar daun-daunnya pada kedudukan yang dikehendaki. Dengan demikian pada putaran baling-baling yang konstan dapat dihasilkan gaya dorong yang besarnya berbeda-beda. Baling-baling jenis ini cocok di perairan Baltik yang dalam tetapi tidak cocok untuk perairan dangkal. Harganya mahal dan untuk perbaikan membutuhkan tenaga khusus.
d. Kurt Nozzle; diselubungi oleh semacam tabung silinder dimana penampang bujur tabung silinder berbentuk aerofoil yang dimaksudkan untuk memusatkan aliran air yang menuju daun baling-baling sehingga menambah efisiensi baling-baling. Jenisnya antara lain Duckpeller dari Ishikawajima Heavy Industry dan Z-peller dari Niigata, keduanya dari Jepang. Keuntungan jenis ini yaitu memberi tambahan tenaga dorong dari kapal dan tidak memerlukan daun kemudi yang luas. Kerugiannya yaitu konstruksi lebih mahal, mengorbankan bagian belakang untuk penempatan propeller, biaya perbaikan yang tinggi dan kavitasi (timbulnya gelembung-gelembung udara yang mengandung O2 akibat perputaran baling-baling) yang besar.
e. Tenaga nuklir; contoh kapal bertenaga nuklir yaitu NS Savannah, yaitu kapal penumpang dan barang dengan baling-baling tunggal (single screw). Kapal ini dibangun dengan 3 geladak, 10 sekat kedap air yang membagi 11 kompartemen, dan mampu membawa 60 penumpang dan ABK 109 orang. Keistimewaan kapal ini adalah pengisian bahan bakar nuklir selama 3 tahun sekali dengan catatan bahwa kapal ini dijadwalkan 60 % berlayar dengan kecepatan normal dan 40 % di pelabuhan. Yang perlu diperhatikan adalah pelindung radiasi untuk menjaga radiasi pada waktu kapal beroperasi. Contoh lain adalah kapal selam nuklir Nautilus milik angkatan laut AS. Berhubung mahalnya biaya maka kapal jenis ini tidak banyak dibangun dan hanya digunakan untuk riset ataupun keperluan khusus yang menggunakan tenaga nuklir.
f. Tenaga listrik: terbagi 2 yaitu tenaga listrik turbo dan tenaga listrik diesel. Jenis ini juga tidak terlalu banyak ada di pasaran karena masih mahalnya penggunaan tenaga listrik sebagai sumber tenaga.

B. Sesuai material (bahan):
a. Kapal kayu:
Kebanyakan pembuatan kapal kayu tergantung dari ketrampilan seseorang pembuat kapal secara turun-temurun dan penggunaan alat-alat mekanis sangat sedikit dibandingkan yang digunakan pada kapal baja. Di Indonesia, kapal kayu masih banyak digunakan sebagai kapal ikan tradisional dan juga kapal layar untuk keperluan olahraga dan rekreasi.
b. Kapal baja:
Kapal baja pertama dibuat dalam abad 19, sekitar tahun 1870 di AS yang mana perubahan dari kapal kayu hanyalah bahan kayu diganti bahan baja dengan satu bagian dihubungkan dengan bagian lain memakai paku keling. Baru pada tahun 30-an pengelasan mulai dipakai di kapal meskipun masih ada beberapa bagian yang tetap dikeling. Pengelasan sepenuhnya mulai dipakai sejak tahun 50-an. Kapal baja dibangun dengan konstruksi gading-gading (frames) melintang dan pelat kulit (shell plating) membujur. Cara membangun kapal pada masa itu dengan erection system (sistem penyambungan), yaitu gading dan wrang (floor) didirikan kemudian baru pelat bajanya ditempelkan, tetapi setelah adanya derek atau crane yang daya angkutnya besar sistem tersebut tidak digunakan lagi, diganti dengan block system atau sistem blok, kecuali untuk kapal-kapal kecil.
c. Kapal aluminium.
d. Kapal fiberglass.
e. Kapal ferrocement.

C. Sesuai pemakaian:
I. Kapal perang.
I.1. Sejarah kapal perang:
Sejak adanya kapal-kapal niaga yang melayari samudera, timbul jalan perniagaan lintas laut. Pada awal sejarahnya dahulu, timbul pula persaingan antar negara-negara maritim untuk memonopoli penggunaan jalan perniagaan lintas laut ini bagi kepentingannya sendiri. Akibat dari persaingan ini, semua kapal-kapal niaga pada waktu itu dilengkapi dengan senjata-senjata berat guna menghadapi pertempuran laut (kenang-kenangan pada masa lampau dimana kapal niaga masih merangkap sebagai kapal tempur sampai kini masih tertinggal, bangunan pada haluan sebuah kapal niaga disebut forecastle yang artinya benteng depan karena bagian ini merupakan kubah perlindungan persenjataan bagian depan dari suatu kapal).
Di samping persaingan antar negara-negara maritim, ada pula bahaya lain yang mengancam kapal-kapal niaga pada waktu itu yaitu perompakan. Sejak awal adanya jalan perniagaan lintas laut, terdapat sekelompok orang yang melihat betapa untungnya merompak kapal-kapal yang pulang ke negerinya sendiri dengan membawa kekayaan berlimpah-ruah setelah melakukan perdagangan. Pada dasarnya ada 3 jenis perompakan, yaitu mereka yang melakukan perompakan terhadap kapal siapa saja sepanjang hal ini menguntungkan baginya (pirate), mereka yang berjiwa nasionalis yaitu hanya merompak kapal-kapal asing dan tidak mau mengganggu kapal-kapal kebangsaan sendiri (buccaneer) dan terakhir adalah mereka yang melakukan perompakan secara setengah resmi atau direstui pemerintah yaitu para perompak (privateer atau corsair) yang merompak terhadap kapal-kapal asing yang bermusuhan atas dasar surat penunjukan yang diberikan oleh negara yang dikenal dengan nama letter of margue. Berdasarkan Deklarasi Paris tahun 1856, kegiatan privateer dinyatakan terlarang tetapi AS, Spanyol, Meksiko dan Venezuela, menyatakan tidak tunduk pada pernyataan ini. Hague Convention pada tahun 1907 menetapkan bahwa kapal-kapal niaga mempersenjatai dirinya guna bela diri dalam keadaan perang, namun apabila kapal niaga bersenjata ini oleh negara digunakan untuk tugas-tugas yang bersifat ofensif, ia harus diberi tugas resmi sebagai kapal perang. Dengan kata lain, sebuah kapal yang melakukan kegiatan privateer harus diberi status yang jelas sebagai kapal perang, tidak sekedar sebuah kapal yang hanya memegang letter of margue saja.
Lambat laun, negara-negara maritim merasakan perlunya membuat kapal-kapal yang khusus untuk keperluan bertempur melindungi jalan perniagaan lintas laut, sehingga terjadilah apa yang kita kenal dengan kapal perang dan angkatan laut. Terciptanya kapal-kapal yang khusus untuk keperluan berperang merupakan proses evolusi yang berangsur-angsur. Di Inggris misalnya, sebelum tahun 1484 belum ada angkatan laut yang bersifat permanen dan serta suatu kapal yang dibuat khusus untuk bertempur di laut. Kapal niaga yang merasa perlu untuk membela diri, harus melengkapi sendiri persenjataannya. Apabila dalam keadaan perang, ada kapal perang yang digunakan untuk menyerang negeri lawan, kapal itu tidak lain adalah kapal niaga yang disewa kontrak oleh raja Inggris dan diberi persenjataan milik kerajaan. Apabila perang berakhir, maka senjata-senjata ini diturunkan dan dikembalikan kepada pemiliknya untuk kembali menjadi kapal biasa.
Baru pada tahun 1485, raja Henry VII membentuk suatu angkatan laut Inggris yang bersifat full timer, dengan modal pertama 2 kapal yang selamanya bersenjata dan para pelautnya digaji terus-menerus dan dibayar dari kas kerajaan. Sampai saat ini, angkatan laut kerajaan Inggris tetap diangap sebagai milik raja/ ratu, karenanya menggunakan nama “Royal Navy” yang secara sempit berarti Angkatan Laut milik Raja/ Ratu dan semua nama kapal perang Inggris diberi awalan HMS (Her Majesty’s Ship) yang arti harfiahnya kapal milik Paduka Raja/ Ratu.

I.2. Identitas kapal perang:
Menurut tradisi laut, tempat yang terhormat di sebuah kapal adalah di buritan, karena disitulah dahulu para nakhoda dan mualimnya berkedudukan (juga karena daun kemudi terletak di buritan dan zaman itu belum ada mekanisme remote yang memungkinkan penempatan roda kemudi di bagian yang lebih depan). Karena itulah pada zaman dahulupun, panji-panji kehormatan yang dikibarkan di atas kapal selau ditempatkan di buritan. Tradisi inipun berlanjut sampai sekarang, Untuk menunjukkan kebangsaannya, sebuah kapal laut mengibarkan bendera yang disebut ensign di tiang bendera buritan. Pada beberapa negara, termasuk Indonesia, ensign sama dan serupa dengan bendera kebangsaan yang biasa digunakan di darat, sehingga ensign kapal Indonesia adalah Sang Saka Merah Putih.
Tetapi pada beberapa negara lain, misalnya Inggris dan negara-negara bekas koloninya yang tergabung dalam persemakmuran, ensign tidak sama dengan bendera kebangsaan yang biasa digunakan di darat. Di negara-negara tersebut, dirancang ensign khusus untuk kapal negara, kapal perang dan kapal niaga. Di Inggris, misalnya terdapat 5 macam ensign, yaitu RN White Ensign atau disebut juga St. George Ensign untuk kapal perang Royal Navy, Blue Ensign untuk kapal HM Coast Guard dan kapal pesiar Royal Yacht Squadron. Kemudian Red Ensign untuk kapal negara bea & cukai, kapal angkut milik angkatan darat, serta kapal niaga yang nakhodanya perwira cadangan angkatan laut. Lalu Northern Light White Ensign khusus untuk kapal tender yang melayani keperluan rambu laut di Scotlandia, dan terakhir adalah RAF Pale Ensign khusus untuk kapal penyelamat/ SAR milik angkatan udara. Di Jepang, ensign kapal niaga serupa dengan bendera kebangsaannya yang biasa terdapat di darat yaitu Hinomaru, tetapi kapal perang Jepang sejak lama memiliki ensign khusus berupa bendera lukisan matahari dengan garis-garis cahaya (generasi tua di Indonesia yang mengalami pendudukan bala tentara Jepang 1942-1945 mengenal nama bendera itu sebagai Kaigun yang artinya angkatan laut). Di AS, kapal niaga dan kapal perang menggunakan ensign yang sama dan serupa dengan bendera kebangsaannya (Star & Stripes), tetapi kapal-kapal pesiarnya diberi ensign dengan rancangan khusus.
Selain ensign, sebuah kapal juga memiliki tiang bendera di haluan, Bendera yang dikibarkan di haluan disebut jack dan hanya dikibarkan apabila kapal berlabuh atau lego jangkar. Jack secara tradisional bersiksp dekoratif, yang tidak dimaksudkan sebagai tanda identitas kebangsaan kapal tersebut, sekalipun memang ada beberapa negara yang kapal-kapal perangnya mengibarkan jack yang bersifat kenegaraan (misalnya Inggris dan Jepang). Untuk kapal niaga, jack yang dikibarkan adalah bendera perusahaan pelayaan yang memiliki kapal tersebut (house flag). Bagi kapal perang, jack yang dikibarkan biasanya suatu bendera yang dirancang khusus. Misalnya saja, jack kapal perang RI berupa suatu bendera dengan 9 jalur horisontal, jalur teratas berwarna merah yang kedua berwarna putih, kemudian merah, putih, merah lagi, putih lagi begitu terus berselang-seling sehingga jalur paling bawah berwarna merah. Jack kapal perang AS berupa bendera biru dengan 50 buah bintang putih, yang desainnya tidak diambil dari bagian sudut atas bendera kebangsaannya Stars & Stripes. Sedangkan di Jepang, kapal perangnya menggunakan bendera kebangsaannya di darat yaitu Hinomaru, sehingga di kapal perang Jepang kta melihat hal yang menarik, kapal niaga benderanya berkibar di buritan (sebagai ensign) sedangkan pada kapal perang benderanya berkibar di haluan (sebagai jack). Pada kapal perang Inggris, jack yang digunakan berupa bendera kebangsaan yang biasa digunakan di darat (Union Jack atau Union Flag). Kapal perang di seluruh dunia umumnya dicat dengan warna abu-abu sebagai warna samaran umum di laut, seperti halnya hijau sebagai warna samara prajurit yang bertempur dalam hutan atau warna khaki merupakan warna samaran di padang pasir. Kadang-kadang kapal perang dengan tugas khusus diberi penyamaran lain,misalnya loreng-loreng seperti yang dilakukan dalam perang dunia kedua oleh beberapa kapal perang yang mempunyai pangkalan persembunyian yang tentunya untuk mengelabui lawan. Kapal selam umumnya dicat dengan warna hitam, dan berlainan dengan kapal niaga yang namanya dapat kita baca dengan jelas pada bagian depan dekat jangkar, kapal-kapal perang umumnya hanya mencantumkan nomor lambung.


I.3. Jenis-jenis kapal perang:
i. Kapal Induk (Aircraft Carrier);
Kapal induk merupakan kapal perang pengangkut pesawat terbang dan memiliki bobot terbesar pada saat ini. Keefektifan kapal induk sebagai suatu senjata angkatan laut mulai terasa pada Perang Dunia II, dengan banyaknya kapal yang diluncurkan dari kapal-kapal induk oleh Sekutu untuk melawan Jepang pada waktu itu. Sebuah kapal induk dapat mudah dikenali dari bentuknya yang besar serta deknya yang rata. Anjungan, tower, serta cerobong asapnya membentuk suatu bangunan di bagian sebelah kanan kapal. Kecepatan jelajah kapal induk pada saat ini rata-rata mencapai sekitar 30 knot. Dek landasan pesawat terbang, hanggar, ruang-ruang peralatan mesin serta sepanjang lambung (pada batas permukaan air) dari sebuah kapal induk diberi lapisan baja pelindung yang tebalnya sampai beberapa puluh millimeter. Jalur landasan peluncuran pesawat pada kapal induk tidak merupakan jalur lurus dari haluan ke buritan, melainkan membentuk sudut kira-kira 8o, agar dapat menambah efisiensi pada saat pesawat mendarat dan juga memperluas landasan parkir pesawat di bagian depan kapal.
Pesawat-pesawat terbang yang diluncurkan dari kapal induk pada saat lepas landas dibantu oleh suatu alat bantu yang disebut “catapult” (katapel) sehingga tidak memerlukan suatu landasan peluncuran yang panjang. Sebuah katapel dapat meluncurkan pesawat dengan kecepatan menakjubkan yaitu 265 km/jam hanya dalam waktu 2 detik. Setiap pesawat dikaitkan pada katapel, kemudian dilontarkan di sepanjang dek agar melesat ke udara. Tanpa adanya katapel, pesawat tidak dapat bergerak dengan cepat untuk terbang saat mencapai ujung dek. Untuk menahannya ada suatu kabel khusus yang disebut kabel penahan yang sengaja direntangkan di atas dek. Saat akan mendarat sebuah pengait di bawah ekor pesawat akan menjangkau kabel dan menghentikannya agar tidak bergerak maju. Sebuah kabel penahan dapat menghentikan pesawat yang mendarat dengan kecepatan 240 km/jam dalam jarak kurang dari 100 m. Pesawat-pesawat terbang angkatan laut pada umumnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan pesawat terbang yang dimiliki angkatan darat dan udara, karena pesawat-pesawat terbang taktis yang dimiliki oleh angkatan laut harus mampu lepas landas dan mendarat di landasan kapal induk yang relatif pendek.
Sejak tahun 1960an, timbul perkembangan baru dalam sistem persenjataan udara, salah satu diantaranya yaitu berkembangnya helikopter menjadi senjata ofensif dalam peperangan. Kalau pada permulaan lahirnya helikopter orang mengira ia hanya dapat digunakan untuk tugas-tugas di garis belakang seperti mengangkut orang yang luka-luka atau sebagai pesawat penghubung, maka pada perang Vietnam orang sudah dapat melihat betapa helikopter sudah berkembang menjadi senjata udara ofensif yang menakutkan. Sesuai dengan perkembangan helikopter tersebut, maka pada angkatan laut pun muncul kapal induk khusus untuk membawa helikopter. Di Inggris disebut “commando carrier” yang berfungsi membawa satuan-satuan komando dari korps marinir dalam helikopter untuk didaratkan dalam suatu operasi amphibi. Kapal induk terbesar adalah kapal Nimizt milik AS. Kapal induk tenaga nuklir ini memiliki bobot 100.000 ton dan mampu mengangkut sekitar 6.000 ABK. Kapal ini dapat menampung 85 pesawat, sebagian besar disimpan dalam hanggar yang luas di dek bagian bawah, saat dibutuhkan pesawat akan diangkat ke dek terbang oleh 4 lift raksasa. Pengawasan dikendalikan oleh menara pengawas yang terletak di sisi dek sehingga komandan dapat memberikan pengawasan yang baik ke seluruh dek dan sekeliling kapal.
ii. Kapal Penjelajah (Cruiser);
Sampai perang dunia kedua, kapal penjelajah dibagi 2 kategori yaitu menurut bobot kapal dan kaliber meriam yang dibawanya. Yang pertama adalah penjelajah berat dengan bobot di atas 10.000 ton sampai 20.000 ton degan senjata meriam 203 mm (8 inci) dan yang kedua adalah penjelajah ringan yang berbobot kira-kira 6.000 ton sampai 10.000 ton dengan persenjataan meriam 152 mm (6 inci). Tugas kapal penjelajah berat dan ringan ini dalam perang cukup banyak, antara lain mengawal dan melindungi konvoi kapal-kapal niaga dari serangan musuh yang sering mengganggu, memberi prlindungan dari serangan udara dan kapal selam, serta membentuk tirai perlindungan bagi kapal-kapal perang yang lebih besar yaitu kapal tempur (battle ship) dan kapal induk. Untuk menunjang tugasnya, kapal penjelajah dilengkapi dengan bermacam-macam senjata, di samping harus memliki kecepatan jelajah yang tinggi serta mampu berlayar untuk waktu lama tanpa harus sering mengisi bahan bakar.
Setelah perang dunia kedua, dengan berkembangnya teknologi senjata peluru kendali yang menggeser kedudukan meriam kaliber besar sebagai senjata utama kapal perang, maka susunan armada angkatan laut pun harus mengalami penataan kembali. Kapal-kapal tempur dengan meriam-meriamnya yang dahsyat yang dahulu pernah menjadi tulang punggung armada perang, kini terhapus dari daftar kekuatan angkatan laut di dunia. Satu-satunya negara di dunia yang sampai sekarang masih memiliki kapal tempur dengan status cadangan adalah AS dengan pertimbangan bahwa meriam-meriam dahsyat (16 inci) yang dimiliki oleh kapal tempur tetap sangat bermanfaat dalam memberikan tembakan dukungan dalam suatu operasi angkatan laut. Dengan penataan kembali sesuai perkembangan zaman, kapal-kapal penjelajah berat dan ringan yang dahulu hanya mengandalkan meriam sebagai senjata utamanya harus dikonversi menjadi kapal penjelajah berpeluru kendali. Selain itu, muncul pula kapal penjelajah helikopter (helicopter cruise). Kapal ini memiliki landasan pendaratan helikopter yang panjangnya 1/3 sampai 1/2 dari panjang kapal itu sendiri sesuai dengan banyaknya jumlah helikopter yang dibawanya. Kapal penjelajah helikopter mempunyai fungsi sebagai pesawat penyerang yang dilengkapi dengan peluru-peluru kendali anti pesawat terbang dan kapal selam serta tabung-tabung torpedo.
Kapal penjelajah kini menempati rangking kedua setelah kapal induk dalam susunan kekuatan armada angkatan laut. Suatu kapal penjelajah sekarang tidak lagi diklasifikasikan sesuai bobot dan kaliber meriam yang dibawanya, tetapi didefinisikan sebagai kapal perang yang bobotnya satu tingkat di bawah kapal induk, berkecepatan jelajah tinggi serta bersenjata lengkap untuk mencari dan menghancurkan kekuatan lawan baik di permukaan laut, di bawah laut maupun di udara.


iii. Kapal Perusak (Destroyer);
Kapal ini dahulu mempunyai nama lengkap kapal perusak kapal torpedo (torpedo boat destroyer) karena pada saat dikenalkan pada awal abad kedua-puluh tugasnya adalah memburu dan menghancurkan kapal torpedo. Lambat laun tugasnya berkembang menjadi lebih luas sehingga akhirnya disebut kapal perusak saja. Pengertian kapal perusak sekarang yang bobotnya berkisar antara 2.000 sampai 6.000 ton ialah kapal perang yang kelasnya setingkat di bawah kapal penjelajah (namun sekalipun kapal perusak memiliki bobot yang lebih ringan dari kapal penjelajah, namun ia memiliki kecepatan yang lebih tinggi). Persenjataan sebuah kapal perusak antara lain peluru-peluru kendali anti pesawat terbang dan kapal laut, roket anti kapal selam, disamping senjata-senjata konvensional seperti meriam, torpedo, dan bom bawah laut.
Tugas kapal perusak antara lain sebagai pengawal untuk memberikan perlindungan anti pesawat terbang dan kapal selam serta ikut ambil bagian dalam operasi di permukaan laut dengan unit-unit lain, atau memberi dukungan dalam operasi amphibi.
iv. Kapal Fregat (Freegate);
Kapal fregat adalah kapal perang yang kelasnya di bawah kapal perusak. Sebenarnya fregat merupakan anak pengembangan dari kapal perusak pada perang dunia kedua dimana dirasakan perlu suatu kapal perang yang lebih besar dari korvet tetapi sedikit lebih kecil dari kapal perusak.
Tugasnya lebih serbaguna, terutama untuk tugas-tugas pengawalan yang berkecepatan tinggi dan persenjataannya meliputi senjata-senjata anti pesawat terbang dan kapal selam serta peralatan deteksi yang jauh. Bobotnya sekitar 1.500 sampai 3.000 ton yang kurang lebih sama dengan bobot teringan kapal perusak.
v. Kapal Korvet (Corvette);
Kapal korvet atau kapal kawal ringan (light escort vessel) adalah kapal perang yang kelasnya di bawah fregat dengan bobot sekitar 500 sampai 1000 ton. Persenjataan sebuah korvet biasanya hanya beberapa meriam konvensional, penangkis serangan udara, roket dan bom bawah laut anti kapal selam.
Fungsi korvet adalah untuk tugas-tugas pengawalan ringan atau patrol. Di samping tugasnya untuk bertempur, kapal korvet merupakan kapal yang ideal bagi kesatuan pengawal pantai (cost guard) untuk patroli keselamatan dan keamanan di laut.
vi. Kapal Pendarat (Landing Ship);
Fungsi kapal pendarat berkaian erat dengan doktrin korps marinir, yaitu mengangkat dan mendaratkan pasukan beserta segala perlengkapannya ke pantai yang sedang dikuasai lawan. Karena fungsinya dalam operasi amphibi, AL AS menyebut kapal pendarat sebagai Amphibious Ships sekalipun beberapa jenis kapal pendaratnya sendiri secara harafiah teknis bukan kendaraan yang dapat bermanuver secara amphibi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah kapal induk helikopter.
Dewasa ini cukup banyak jenis kapal pendarat yang digunakan oleh angkatan laut. Jenis yang konvensional seperti kapal pendarat tank (LST/ Landing Ship Tank) untuk mendaratkan tank dan kendaraan-kendaraan berat langsung ke pantai dari pintu di haluan, kapal pendarat dok (LSD/ Landing Ship Dock) untuk membawa dan meluncurkan perahu-perahu pendarat (Landing Craft Mechanized/ LCM) dan Landing Craft Vehicle & Personnel (LCVP) yang sekaligus berfungsi pula sebagai dok terapung untuk perbaikan perahu-perahu tersebut. Sekarang ada juga kapal induk helikopter dan kapal pendarat serbu (assault landing ship). Kapal pendarat serbu mengkombinasikan beberapa kemampuan yang ada pada kapal LST, LSD dan kapal induk helikopter yaitu membawa kapal pasukan pendarat lengkap dengan tank dan kendaraan-kendaraan beratnya dalam perahu LCM/ LCVP dan helikopter. Dalam AL AS, kapal induk helikopter tidak dimasukkan ke dalam kelompok kapal induk dan tidak disebut sebagai helicopter carrier melainkan dikelompokkan ke dalam jenis kapal pendarat dengan istilah amphibious assault ship. Ada juga yang disebut amphibious transport dock yang kemampuannya dapat mendaratkan pasukan baik dengan helikopter maupun dengan perahu pendarat (atau dengan kata lain adalah kombinasi kapal induk dengan kapal pendarat dok/ LSD).
Dalam suatu operasi amphibi modern, kapal induk helikopter dan kapal pendarat serbu mempunyai peranan penting karena fasilitas-fasilitas komunikasi elektronikanya yang lengkap sehingga kapal-kapal itu akan berfungsi sebagai kapal markas yang mengolah dan mengatur komando ke segenap kekuatan darat, laut dan udara yang digerakkan dalam operasi tersebut.
vii. Kapal Selam (Submarine);
Setelah Perang Dunia kedua, kapal selam mengalami perkembangan yang revolusioner bukan hanya dalam segi teknis tetapi juga dalam fungsinya. Kalau pada mulanya kapal selam hanya memiliki tugas-tugas taktis dalam medan pertempuran laut, sekarang kapal selam telah menjadi senjata strategis yang dahsyat dan daya pukulnya dapat mencapai setiap titik di bumi ini tak peduli apakah sasaran tersebut jauh atau dekat dari laut. Hal ini berkat perkembangan teknologi modern yang menjadikan kapal selam khususnya yang bertenaga nuklir sebagai sebuah landasan peluncuran tersembunyi yang selalu bergerak (sehingga sulit untuk dilacak) untuk peluru kendali benua yang berkepala nuklir. Senjata konvensional yang utama dari sebuah kapal selam adalah torpedo, selain peluru-peluru kendali taktis.
Kapal selam merupakan satu-satunya kapal laut yang dapat menenggelamkan diri. Kapal ini melakukan patroli lautan jauh di bawah gelombang laut dan segera menyelam setelah meninggalkan pelabuhan dan tetap berada di bawah laut hingga 3 bulan lamanya. Mereka hanya perlu kembali ke permukaan saat para awak kapal kehabisan makanan. Kapal selam harus dikendalikan 24 jam sehari, jadi harus terdapat setidaknya 2 awak kapal di dalamnya, jika yang satu tidur, satu lainnya akan menjalankan kapal selam. Kapal selam harus menjaga bobotnya yang lebih berat supaya bisa menyelam. Caranya adalah dengan membiarkan air laut masuk ke dalam tangki kosong di dalam badan kapal. Kapal selam terbesar harus menyedot ribuan liter air agar dapat menyelam. Agar dapat kembali ke permukaan maka ia harus dapat menyemprotkan air keluar. Untuk menentukan arah mereka menggunakan sonar karena tidak punya jendela sehingga para awak kapal dapat menyelidiki objek mati di depannya, misalnya gunung bawah laut. Kapal selam terbesar adalah kapal Rusia Typhoon yang berukuran panjang 171 m, dan bobotnya mencapai 18.500 ton.
viii. Kapal Ranjau;
Kapal ranjau diklasifikasikan dalam 3 bagian yaitu: kapal penyebar ranjau (minelayer), kapal pemburu ranjau (minehunter) dan kapal penyapu ranjau (minesweeper). Dalam operasi masing-masing terbagi pula untuk tugas samudera, perairan pantai dan perairan pedalaman (sungai/ muara). Macam ranjau yang digunakan oleh AL yaitu ranjau kontak yang akan meledak apabila kapal (yang konstruksinya dari besi sehingga bersifat magnetik) lewat di dekatnya ranjau akustik yang meledak akibat getaran suara baling-baling/ mesin kapal yang lewat, dan ranjau tekanan air yang meledak karena perubahan tekanan air laut laut akibat lajunya kapal.
Kapal-kapal pemburu ranjau dilengkapi dengan peralatan modern yang sanggup mendeteksi dan mengklasifikasikan ranjau dari jauh, sementara kapal-kapal penyapu ranjau dilengkapi peralatan untuk menghancurkan ranjau-ranjau tersebut. Selain itu kapal penyapu ranjau karena tugasnya yang harus mendekati dan menghancurkan ranjau-ranjau harus memilii konstruksi khusus, yaitu sedikit mungkin mengandung sifat magnetik disamping hanya mengeluarkan getaran suara baling-baling/ mesin yang sekecil mungkin. Untuk itu konstruksi kapal penyapu ranjau banyak menggunakan bahan baku non magnetik seperti kayu, plastik, fiberglass dan aluminium. Dalam masa perang akibat kekurangan kapal penyapu ranjau, kapal-kapal motor penangkap ikan (trawler) yang konstruksinya kayu dengan sedikit modifikasi dapat segera digunakan oleh AL untuk menjadi kapal penyapu ranjau. Sementara kapal-kapal pemburu ranjau semakin meningkatkan kemampuannya dengan peralatan detektor yang canggih untuk membimbing pesawat-pesawat terbang & helikopter AL untuk menhancurkan ranjau, kapal-kapal penyebar dan penyapu ranjau kini telah semakin langka dan tergeser kedudukannya. Dalam operasi ranjau laut modern, kini pesawat terbang & helikopter AL memegang peranan penting untuk menghancurkan ranjau.
ix. Kapal Patroli (Patrol Boat);
Kapal cepat untuk tugas patroli sekarang terbagi atas 3 jenis yaitu kapal patroli yang hanya dilengkapi dengan sepucuk meriam kaliber kecil dan atau senapan mesin kaliber 12,7 mm (gunboat) seperti kalau di Indonesia digunakan oleh Kesatuan Penjaga Laut & Pantai (KPLP), kapal cepat torpedo (MTB/ Motor Boat Torpedo atau PTB/ Patrol Boat Torpedo) dilengkapi dengan satu atau dua pasang tabung peluncur torpedo ukuran 533 mm, dan yang paling mutakhir adalah kapal cepat patroli yang dilengkapi dengan peluncur-peluncur peluru kendali permukaan ke permukaan (guided missile boat).
Ciri utama dari sebuah kapal patroli adalah bobotnya yang ringan dan kecepatannya yang amat tinggi (rata-rata mencapai 40 knot) sementara kapal patroli cepat tipe Brave milik AL Inggris dapat mencapai 52 knot.
x. Kapal Bantu (Auxiliary Vessel);
Kapal bantu yang digunakan oleh AL sangat banyak jenisnya. Fungsi utamanya adalah melayani kebutuhan kapal-kapal serta unit-unit dari AL. Dalam keadaan perang, kapal-kapal bantu AL diambil pula dari armada niaga nasional, seperti yang dialami Indonesia pada masa Trikora/ Dwikora tahun 1950-1960-an dimana kapal-kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dan Jawatan Pelayaran dimiliterisasi menjadi kapal-kapal ALRI. Di Inggris saat ini terdapat dinas Royal Fleet Auxiliary (RFA) yang kapal-kapalnya mengibarkan bendera Blue Ensign dan diawaki oleh pelaut-pelaut armada niaga, yang merupakan tulang punggung utama dalam menunjang kebutuhan logistik kapal-kapal perang Royal Navy.
Salah satu jenis kapal bantu ialah kapal markas (depot ship) atau dalam AL AS disebut tender. Fungsi kapal tender ini ialah sebagai kapal induk atau markas dari sekelompok kapal perang yang sedang beroperasi, misalnya kita mengenal kapal tender untuk kelompok kapal selam atau kapal tender untuk kelompok kapal perusak, dan karena fungsinya tersebut sebuah kapal tender harus memiliki fasilitas perbengkelan dan peralatan untuk memperbaiki kapal-kapal perang bersangkutan. Secara fisik kapal tender mirip dengan kapal barang biasa dari armada niaga, namun pada deknya ia memiliki banyak keran (crane) besar untuk menaik-turunkan alat-alat mesin yang berat yang perlu diperbaiki dari kapal-kapal yang menjadi ‘anak buahnya’. Jenis lain dari kapal bantu adalah kapal-kapal untuk keperluan survey hidro-oseanografi dan kapal pemecah es (khusus untuk negara yang memiliki musim salju).
Status kapal bantu dalam angkatan laut ada beberapa macam tergantung dari peranan/ derajat vitalitas kapal bantu yang bersangkutan. Di Indonesia, kapal-kapal bantu AL merupakan kapal perang sepenuhnya dari TNI AL dan diberi awalan nama KRI (Kapal Republik Indonesia). Di Inggris, terdapat 2 status kapal bantu AL, yaitu yang berstatus kapal perang dengan awalan HMS dan yang berstatus kapal negara dengan awalan RFA (Royal Fleet Auxiliary). Begitu pula di AS, kapal bantu AL AS dengan status kapal perang diberi nama USS (United States Ship), sedangkan kapal-kapal niaga yang dicarter dari perusahaan pelayaran untuk digunakan sebagai kapal bantu diberi nama awalan USNS (United States Naval Ship).
DAFTAR PUSTAKA
1. Soekarsono, NA. “Pengantar Bangunan Kapal dan Ilmu Kemaritiman”, Penerbit PT. Pamator Pressindo, Jakarta, 1995.
2. Diktat dan catatan kuliah Teori Bangunan Kapal, karangan Ir. Danny F.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar