Minggu, 03 Mei 2009

Sejarah Kapal Laut

SEJARAH KAPAL
Daratan merupakan lingkungan hidup manusia yang wajar, tetapi laut juga merupakan tantangan, bahkan semasa awal perabadan pun manusia sudah membuat perahu / kapal dan memberanikan diri turun ke laut. Kemungkinan bentuk terawal perahu berupa “sampan jalur” yang kini masih nampak kini di sungai-sungai Kalimantan. Tetapi untuk menempuh jarak jauh tentunya diperlukan perahu yang lebih besar.
Gambar-gambar perahu yang telah ditemukan, diperkirakan dibuat pada 6000 tahun yang lalu, tapi tidak diragukan lagi bahwa manusia telah dapat membuat perahu sejak lama sebelumnya. Mungkin perahu mulai dikenal ketika seseorang menggunakan batang kayu yang hanyut atau seikat batang-batang gelagah untuk membantunya terapung di atas air. Kemudian secara kebetulan ditemukan bahwa daya apung kayu berongga lebih besar dari kayu padat.
Selanjutnya manusia mempelajari cara mengikat ranting atau gelagah untuk dijadikan rakit dan cara membuat perahu rongga gelagah untuk dijadikan rakit dan cara membuat perahu rongga dengan melubangi sebatang kayu. Untuk menyempurnakan penemuan tersebut ia memberikan kayuh / cadik dan kemudian memasang layar pada kedua macam kendaraan air ini. Rakit adalah perahu yang dibuat dengan menggabungkan bahan-bahan. Mungkin dari rakitlah berkembang perahu sungguh-sungguh yang pertama. Perkembangan perahu rongga menemui jalan buntu karena besarnya terbatas, tetapi bangsa-bangsa primitif masih menggunakannya. Di masa lampau mereka melakukan pelayaran yang menakjubkan dengan perahu-perahu itu lebih dari 1000 tahun yang lalu, Bangsa Polinesia menyeberangi Lautan Pasifik pulang-pergi dengan perahu rongga. Sedikit demi sedikit kapal laut disempurnakan dari perahu jaman batu sampai menjadi bentuk kapal panjang Punisia.
Perahu yang disebut balsa ini digunakan sejak zaman dahulu di danau Titicaca, Peru. Balsa dibuat dari ikatan-ikatan gelagah dan hanya dapat digunakan selama beberapa bulan saja karena gelagah cepat membusuk dan hancur.
Perahu Brigg yang dibuat pada zaman batu panjangnya 16 meter dan lebarnya 1,35 meter. Untuk perahu rongga ukuran tersebut adalah luar biasa. Perahu ini diperkuat dengan balok-balok kayu yang melintang pada jarak-jarak tertentu sepanjang badannya. Melalui lubang-lubang yang dibor pada kedua sisi perahu itu direntangkan tali kulit, sehingga sisi perahu itu menekan dengan kuat pada balok yang melintang tadi.
Diantara para pelaut yang paling terkenal di zaman dahulu adalah bangsa Punisia, Mereka mendiami daerah yang sempit, tidak subur yang terletak di antara Laut Tengah dan padang pasir. Karena itu tidak mengherankan kalau mereka memilih laut sebagai tempat mencari nafkah. Mungkin merekalah pelaut pertama yang melakukan pelayaran lepas pantai dan mengelilingi benua Afrika (kira-kira pada 600 tahun SM).
Kapal-kapal mereka menguasai perdagangan di Laut Tengah ke arah utara mereka berlayar sampai ke negeri Inggris. Orang Punisia membuat berjenis-jenis kapal dagang dan kapal perang kapal bulat lonjong dengan tenaga layar dan dayung sebagai cadangan, Kapal-kapal panjang dan ramping dan laju dengan tenaga dayung dibantu layar digunakan sebagai kapal perang.
Sekitar abad 27 SM orang Mesir sudah membangun perahu dari batang papyrus. Perahu mereka mengarungi sungai Nil dan laut Merah. Perahu jaman purba tidak berani jauh dari daratan, supaya bisa mudah mengetahui posisi dari tanda-tanda yang nampak dari pesisir. Ancaman yang ada hanya berupa resiko kandas atau menabrak karang. Tetapi kalau daratan tidak nampak lagi lebih sulit mengenali posisi dengan tepat. Para pelaut terpaksa mencari akal. Laut Tengah dijuluki tempat lahir “Ilmu Navigasi” karena disitu para pelaut Barat untuk pertama kalinya memberanikan diri mengarungi lautan terbuka.
Perahu papyrus sebenarnya adalah rakit yang bisa terapung. Untuk mencegah agar batang papyrus tidak banyak menghisap air, batang-batang disatukan menjadi berkas besar. Jenis perahu paling kuno di Mesir yang terbuat dari batang papyrus banyak terdapat di sana. Sekitar 30 abad SM perahu itu sudah berlayar ke Kreta dan Libanon.
Agaknya bangsa pelaut yang paling terkenal di zaman bahari adalah bangsa Viking. Mereka mengarungi lautan Atlantik menuju Amerika Utara di atas kapal-kapal panjang yang ramping dan cepat. Kemampuannya mengarugi lautan dibuktikan ketika pada tahun 1893 tiruan kapal itu berhasil menyeberangi lautan Atlantik.
PENEMUAN KAPAL UAP
Kapal uap pertama buatan Fulton adalah sebuah kapal aneh dengan roda kayuh di sisi lambungnya yang dicoba di Perancis pada tahun 1803. Dalam perjalanan percobaannya di sungai Seine kapal itu berjalan baik dan bergerak hilir-mudik seperti kecepatan orang berjalan tergesa-gesa di daratan.
Tetapi lambung kapal yang ringan tidak seimbang dengan ketel uapnya yang besar dan dengan mesin yang berbobot terlalu berat. ”CLERMONT” yang tenaga uapnya dilukiskan dalam gambar yang diajukan oleh Fulton kepada kantor Patent Amerika Serikat ini melakukan pelayaran cemerlangnya yang pertama di sungai Hudson pada tahun 1807. Bila dibandingkan dengan pendahulunya, perbaikannya adalah pada mesin “Boulton dan Watt” yang lebih kuat dan efisien dan pada lambung rancangannya lebih sempurna untuk membawa mesin itu.
Kapal layar uap maupun kapal yang menyeberangi Atlantik dengan tenaga uap semata-mata mendekatkan manusia pada kapal modern yang sesungguhnya. Tetapi kemajuan drastis dari Great Western, kapal kayu beroda yang sisinya di samping itu sampai Mauretania yang perkasa hanya mungkin berkat pertemuan tiga kemajuan teknik yang vital selama abad ke 19. Charlotte Dundas kapal uap yang pertama yang berhasil konstruksinya dibangun tahun 1803 untuk seorang bangsawan Inggris Lord Dundas dan diberi nama isterinya.
Bulan Maret 1803 kapal ini menghela dua tongkang bermuatan di terusan Fort dan Clyde. Tetapi pelayaran selanjutnya dilarang pihak pemilik terusan yang mengkhawatirkan alun ombak roda lambungnya akan merusak tebing terusan.
Kapal uap Great Eastern yang diselesaikan tahun 1858 merupakan yang terbesar dari jenisnya. Pada masa itu bisa mengangkut 4000 penumpang atau 10.000 prajurit. Untuk membuatnya diperlukan besi 10.200 ton serta kain layar 5.430 m2.
Kapal Great Eastern yang sepenuhnya dibuat dari besi pada itu tergolong paling besar dan paling mengagumkan dunia. Ciri ini dipertahankannya selama hampir 40 tahun. Dengan panjang mendekati 215 m, lebar 26 m dan tinggi 18 m dan muat 12.000 ton batu bara, memutari Tanjung Harapan dan kembali lewat Tanjung Tanduk.
Great Eastern secara historis penting karena kapal ini mendemonstrasikan kemungkinan-kemungkinan konstruksi logam untuk ukuran yang boleh dikatakan tak terbatas. Sebaliknya, sebagai kapal kerja, Great Eastern merupakan suatu kegagalan yang menyedihkan. Belum pernah kapal tersebut memasuki jalur niaga Timur yang sebenarnya merupakan tujuannya. Kapal tadi melewatkan beberapa tahun yang suram dalam tambangan lintas Atlantik digunakan sebagai kapal peletak kabel (Cable Layer Ship) lintas Atlantik selama kurang lebih 10 tahun dan mengakhiri kariernya sebagai rumah hiburan terapung.
LEDAKAN JUMLAH KAPAL BESI
Suatu penyelidikan mengenai kapal layar untuk perdagangan Timur Jauh yang diterbitkan pada tahun 1853 oleh James Hodgson I, seorang pembuat kapal Liverpool menyimpulkan bahwa sebuah kapal kayu berukuran 1000 ton menelan biaya 20 % lebih tinggi daripada kapal besi berukuran sama. Lebih lagi, kapasitas kapal kayu itu adalah 1.500 ton muatan, sedangkan kapasitas kapal besi yang berukuran sama bisa mencapai 1.800 ton.
Akibat perbedaan ini, ditambah laju penyusutan yang lebih rendah dan biaya yang lebih rendah untuk asuransi dan bunganya,sebuah kapal besi yang pulang dari Timur dapat membawa keuntungan 2.00 pounsterling lebih besar dari perolehan kapal kayu. Laporan ini mendorong pertumbuhan yang pesat dalam pembuatan kapal besi.
JENIS PENGGERAK KAPAL
a. Penggerak dayung / Oar:
Pada abad ke 21 kapal yang penggeraknya menggunakan dayung sudah tidak ada lagi, kecuali perahu-perahu di perairan dangkal misalnya di sungai-sungai Kalimantan, Sumatera, Jawa dan lainnya. Kapal berpenggerak dayung digerakkan oleh tenaga manusia dengan dayung (oar) di samping kiri atau kanan lambung (hull) kapal.
Kapal berpenggerak dayung sekarang hanya digunakan untuk perlombaan olahraga, Di sungai Musi dan Kapuas ada perahu dayung yang dikenal dengan nama perahu Bidar yang dikayuh oleh beberapa orang dengan seorang duduk di haluan untuk memberi aba-aba,
Ada juga untuk perahu penyeberangan sungai yang berfungsi sebagai jembatan. Pada abad ke 18 dan ke 19 terdapat kapal yang menggunakan semacam kayuh yang dijalankan oleh mesin, Kayuh kapal tersebut dinamakan paddle wheel (roda kayuh) kapalnya disebut Paddle Wheel Ship.
b. Penggerak angin:
Kapal berpenggerak angin yaitu kapal yang konstruksinya menggunakan tiang-tiang layar dan beberapa macam layar (sail) untuk memanfaatkan tenaga hembusan angin pada layar kapal tersebut. Sampai akhir abad ke 17, kapal layar samudera sudah mulai jarang setelah tenaga mesin yang menggerakkan baling-baling telah digunakan sejak ditemukannya mesin uap. Sekarang kapal layar masih dipunyai oleh sebagian negara misalnya Jerman, Inggris, Amerika dan juga Indonesia sebagai Kapal Pelatih yaitu dari Angkatan Laut RI bernama KRI DEWARUCI dan Phinisi Nusantara yang beberapa waktu lalu mengarungi samudera menuju Cancouver untuk ikut pameran sarana transportasi laut.
Untuk pelayaran antar pulau, kapal layar dari Madura dan Sulawesi sampai kini masih kita temui bongkar muat di pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta dengan muatan kopra, rotan, papan-papan, kayu gergajian, dan lainnya. Kapal layar samudera ini dilengkapi dengan dua atau tiga tiang layar dan beberapa layar yang masing-masing mempunyai nama dan fungsinya.

Kapal (perahu) layar untuk keperluan olahraga (olahraga layar) terdapat di semua negara termasuk Indonesia yang mempunyai tim olahraga layar dan olahraga dayung. Contoh Pertamina mempunyai klub olahraga layar yang bernama Kuda Laut. Jenis perahu layar yang diperlombakan antara lain :
Laser ; Interprise, 407
Firebal ; Yacht, dan lain-lain
407 ialah jenis perahu layar yang panjangnya 4 m 7 cm.

Galea Romawi dari masa sekitar 50 tahun SM dalam pertempuran terutama dipakai dayung, tetapi kalau ada angin untuk pelayaran jauh digunakan layar. Tonggak penumbuk berlapis besi atau perunggu untuk menenggelamkan musuh. Layar yang dipergunakan segi empat, serta dayung dan kemudi terletak disisi kiri perahu.

Perahu dhau di Arab sudah dikenal sejak lebih 15 abad, Waktu itu pelaut bangsa Arab sudah berlayar pulang balik ke India dengan memanfaatkan angin musiman. Sudah dari masa dahulu perahu layar atau kapal dipergunakan sebagai alat angkut di perairan karena dengan menggunakan kapal muatan dapat diangkut sebanyak mungkin, selain digunakan juga mengangkut pasukan untuk menaklukkan musuh.

c. Penggerak / tenaga mesin:
Kapal yang mempunyai ruang mesin di dalam lambung kapal dimana mesin tersebut mampu menggerakkan baling-baling (propeller) kapal sebagai sarana dorong / gerak kapal. Sekarang kapal adalah sarana transportasi melalui laut yang daya angkutnya sangat besar dibanding dengan transportasi melalui darat apalagi melalui udara.

DEFINISI KAPAL
Yang disebut kapal ialah suatu bentuk konstruksi yang dapat terapung (floating) di air dan mempunyai sifat muat berupa penumpang atau barang yang sifat geraknya bisa dengan dayung, angin atau mesin.
Di dalam istilah perkapalan,arti kapal terdapat istilah asing yaitu:
• SHIP disebut untuk kapal yang berukuran besar.
• BOAT disebut untuk kapal yang berukuran kecil.
• VESSEL disebut untuk kapal yang berukuran besar dan kecil.
• CRAFT disebut untuk kapal yang berukuran kecil saja.
• CARRIER juga sering dipakai untuk kapal-kapal yang mengangkut barang curah / Bulk Carrier, kayu / Log and Timber Carrier.

Barge atau tongkang ialah suatu alat apung yang sifat muatannya bisa berupa cair (air atau minyak ) atau barang umum lainnya,biasanya tongkang ini ditarik oleh kapal tarik (tug boat) dalam hal ini alat apung tersebut bukan jenis kapal,lain halnya bila tongkang tersebut mempunyai alat penggerak sendiri misalnya self Propelled Barge adalah suatu bentuk kapal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Soekarsono, NA. “Pengantar Bangunan Kapal dan Ilmu Kemaritiman”, Penerbit PT. Pamator Pressindo, Jakarta, 1995.
2. Diktat dan catatan kuliah Teori Bangunan Kapal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar